Krisis Pangan

April 30, 2008

 

Here we go again! Genap satu dekade sejak kita mengalami krisis ekonomi. Decadely! Setiap dekade nampaknya sudah jadi tradisi kehidupan ekonomi, kita mengalami krisis. Kali ini krisis tiga F sekaligus, finance, fuel, dan krisis yang lebih dahsyat — yaitu “food.” Krisis pangan sudah terasa di mana-mana. Membeli beras di Sam’s Club atau Costco atau supermarket di Amerika saat ini sudah mulai dibatasi, maksimal 4 kantong per keluarga. Negara-negara pengekspor beras dan biji-bijian lainnya ramai-ramai menerapkan restriksi ekspor untuk mengamankan pangan dalam negeri masing-masing. Pada saat yang sama, berita kelaparan dari berbagai negara-negara miskin yang dihuni oleh lebih dari 1 milyar rakyat miskin yang penghasilannya kurang dari 1 dollar per hari, sudah mulai banyak beredar di blog, dan menjadi headline setiap surat kabar. Setidaknya krisis pangan di 11 negara sudah meminta korban yang bukan pangan. Perdana Menteri Haiti Jacques Edoard Alexis sudah dipaksa turun dari jabatannya bulan ini karena krisis pangan di sana. Para pekerja pabrik di Bangladesh ramai-ramai protes kenaikan harga makanan. Mahasiswa Indonesia pun ramai protes ke Istana Negara. Pemerintah di seluruh dunia saat ini sedang berkeringat dingin, termasuk SBY-JK, bagaimana mengatasi krisis pangan, energi dan keuangan yang datang pada saat yang bersamaan?

 

Seluruh menteri keuangan sedunia bertukar pikiran mengenai kasus aneh ini dua minggu lalu di Washington. Tak ada jawaban yang pasti, bahkan antar para menteri keuangan dan ekonom kawakan sekalipun masih saling bersilang pendapat mengenai apa penyebabnya dan apa solusinya. Berikut ini kumpulan “katanya” penyebab krisis yang berkembang, yang terekam dari ruang rapat, blog, surat kabar, televisi dan media lainnya. Info “katanya” ini tidak banyak bermanfaat bagi sebagian besar rakyat, tapi kalau diikuti jalan pemikiran para ekonom yang menyebutkan faktor tersebut, memang ada benarnya. Karena saya sendiri bukan ekonom, maka ulasan “katanya” berikut ini semakin sulit dipercaya tapi enak untuk bahan kongkow diskusi semaleman.

 

Hal pertama yang sangat jelas, katanya adalah pertumbuhan ekonomi yang melejit dua digit di China dan India pada tahun-tahun terakhir ini mengakibatkan perubahan menu makan rakyatnya. Orang Cina saat ini tidak cukup makan nasi dengan lauk sekedarnya saja. Konsumsi daging di Cina meningkat 40% sejak 1980. Hal ini meningkatkan permintaan kebutuhan akan biji-bijian untuk pakan ternak. Sebagai acuan, untuk menghasilkan 1 kg daging sapi diperlukan 7-8,5 kg biji-bijian pakan ternak. Akibatnya, kebutuhan pasar akan biji-bijian semakin meningkat.

 

Ke dua, perkembangan energi alternatif biofuel. Pertumbuhan ekonomi Cina dan India secara otomatis meningkatkan konsumsi energinya secara signifikan, memaksa setiap negara untuk mengembangkan energi alternatif biofuel. Lagi-lagi untuk enaknya, kita salahkan saja Cina dan India. Negara AS pengekspor terbesar 60% biji-bijian dunia telah menkonversi 25% dari produksi jagungnya untuk ethanol. Pengaruhnya di pasar sangat besar, harga jagung meningkat tajam di pasaran. Konsumen Eropa mulai mengalihkan dari jagung ke biji-bijian yang lebih murah sorghum untuk makanan ternaknya. Akibatnya harga sorghum meningkat lebih tinggi lagi, dari 98 dollar per ton (2004-5) menjadi 191 dollar per ton (2007-8). Padahal sorghum itu makanan pokok rakyat miskin di Afrika. Implikasi pengembangan biofuel yang paling dahsyat justru menimpa rakyat miskin di negara-negara miskin. Selain sorghum hilang di pasaran, harganya pun sangat tidak terjangkau.

 

Ke tiga, kekeringan yang berkepanjangan. Katanya ini efek global warming. Kekeringan di daerah pertanian Australia dan negara produsen lainnya berlangsung sangat panjang telah mengakibatkan produksi gandum turun dari 13,6 juta ton metrik pada tahun 2006 menjadi hanya 5,7 juta. Produksi biji-bijian di Uni eropa dan Amerika Serikat juga turun drastis masing-masing dari 45,1 (2006) menjadi 30 juta ton metrik (2008)  dan 71,7 (2006) menjadi 48,1 juta ton (2008). Akibat penurunan drastis produksi ini, stok biji-bijian dunia menipis dan harga biji-bijian dunia melonjak sangat tajam.

 

Ke empat, krisis energi mengakibatkan peningkatan biaya produksi dan transportasi komoditi pertanian. Harga minyak CPO saat ini meroket pada kisaran 116-118,52 dollar per barrel, bahkan ada kemungkinan menembus batas kegilaan 200 dollar per barrel. Sebuah loncatan yang tajam dari 98 dollar per barrel pada 2004-05. Cadangan energi dunia terbatas, negara OKI tidak mau menambah lagi produksinya untuk menyeimbangkan harga minyak dunia. Katanya, meski produksi dari negara-negara OKI ditambah, lonjakan harga minyak saat ini sudah lewat kendali mereka. Berbagai negara sekarang memacu pilihan energi alternatif, yang pada akhirnya mengkonsumsi lebih banyak lagi energi konvensional. Jangan slah, untuk menghasilkan 1 galon biofuel itu membutuhkan 4-20 galon energi konvensional, tergantung komoditi yang dikonversi.

 

Ke lima, kebijakan proteksi dan restriksi dagang hampir di setiap negara. Negara pengekspor biji-bijian seperti Argentina, Ukraine, Rusia, Cina, Vietnam, Kamboja, dan lainnya saat ini ramai-ramai menerapkan kebijakan restriksi ekspor biji-bijian untuk keamanan pangan dalam negeri. Perilaku pasar pangan dunia sangat berbeda dengan pasar komoditi global lainnya, karena proteksi dan subsidi yang besar hampir kita temui di setiap negara. Di forum WTO – Doha Round – selalu berakhir dengan kebuntuan, baik negara maju maupun negara berkembang tetap mempertahankan kebijakan subsidi pertaniannya dengan dalih melindungi rakyatnya. Semangat swasembada pangan di Indonesia hanya tinggal propaganda, karena harga komoditas di pasar dibabat habis oleh produk ekspor yang harganya lebih rendah akibat subsidi dari pemerintahannya. Akibatnya, harga pasar pangan dunia menjadi harga semu. Pasar tidak mampu melakukan keseimbangan dengan segera dan secara gradual karena “bubble” ada di mana-mana. Begitu harga semakin panas, “bubble-bubble” ini meledak sangat keras tak seorang pun dapat menghindarinya.

 

Ke enam, krisis keuangan. Setiap Bank Central mencetak uang. Uang ibarat darah dalam tubuh. Ia akan mengalir bersirkulasi ke seluruh sendi. Jika kebanyakan, maka uang-uang tersebut mencari tempat berteduh yang aman. Pilihan pertama, subprime mortgage atau kredit perumahan yang selama ini aman dan stabil. Para fund manager ramai-ramai membeli surat tanah. Namun, surat tanah dan bangunan telah diperjualbelikan jauh melebihi nilai aslinya. Akibatnya, bunga bank melonjak, inflasi tak terhindarkan. Banyak rakyat Amerika yang kehilangan rumah cicilannya karena disegel oleh bank (Foreclosure). Bunga bank meningkat tajam. Uni Eropa mencatat rekor inflasi 3,6% sampai maret tahun berjalan ini dari angka stabil 2,0 % tahun-tahun sebelumnya. Riak krisis ini berjalan ke mana-mana, termasuk Indonesia.

 

Ke tujuh, katanya kekeliruan kebijakan pertanian dalam negeri masing-masing negara. Kita di Indonesia sudah lama melihat dengan kasat mata berbagai kekeliruan kebijakan pertanian Indonesia, mulai dari kegiatan riset yang terbengkalai, konversi lahan pertanian menjadi lot industri dan perumahan, mandeknya perluasan lahan di luar jawa, mandeknya pembangunan infrastruktur irigasi, revolusi hijau yang tak tuntas dan jauh tertinggal, program penyuluhan pertanian yang ditinggalkan, dan banyak lagi.

 

Ke delapan, katanya kekeliruan kebijakan pangan dalam negeri masing-masing. Pada zaman Pak Harto dulu, semua orang Indonesia didorong makan nasi. Nasionalisasi rame-rame makan padi ini sebenarnya melemahkan ketahanan pangan. Jika stok padi rendah, maka semua rakyat Indonesia menjadi rawan. Saat ini Indonesia sangat tergantung dari padi. Coba kalau dari dulu dibiasakan makan macam-macam? Mungkin keadaan sekarang ini tidak akan membuat kita panik. Laju peningkatan konsumsi padi tidak seimbang dengan laju peningkatan luasan lahan padi. Proyek lahan sejuta hektar gagal, karena memang rancangannya salah. Tata niaga makan pokok satu ini juga tak kunjung beres. Pengijon atau middle man ada di mana-mana. Dalam keadaan apa pun petani tetap saja pada posisi yang tidak menguntungkan.

 

Bagaimana kita menghadapi tantangan di depan mata ini?  Jangan salah, krisis ini akan menghantam kita semuanya, baik yang bekerja di sektor pertanian dan di sektor bukan pertanian, karena pangan “is a matter of life and death.”

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: